Merayakan Bahasa Lokal Kutai Masuk Kurikulum Mulok Pendidikan di Samarinda Kaltim
KLIKSAMARINDA – Penutupan Samarinda Culture Festival (SCF) 2025 telah usai pada Minggu, 27 Juli 2025. Ada kebanggaan saat menghadirkan momen bersejarah bagi pelestarian budaya lokal termasuk merayakan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal (mulok) dalam kurikulum pendidikan di Kota Samarinda.
Dalam acara yang digelar di Rumah Adat Budaya Daerah, Jalan Kadrie Oening, Bahasa Kutai dideklarasikan sebagai bagian dari mulok kurikulum pendidikan di Kota Samarinda.
Deklarasi tersebut disambut antusias oleh tokoh adat, pegiat budaya, para guru, dan masyarakat. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat identitas daerah serta menanamkan nilai karakter kepada generasi muda.
Empat poin penting menjadi isi utama deklarasi mulok Bahasa Kutai. Pertama, Bahasa Kutai dianggap sebagai penanda jati diri yang wajib dijaga dan diwariskan.
Kedua, penggunaan Bahasa Kutai menjadi bentuk kebanggaan terhadap warisan leluhur. Ketiga, masyarakat diajak membiasakan Bahasa Kutai dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, lingkungan sosial, maupun kegiatan budaya.
Keempat, para guru mulok menyatakan komitmen mereka untuk mengajarkan dan mengembangkan Bahasa Kutai secara literatif kepada peserta didik.
“Komunitas Mulok Bebasa Kutai Kota Samarinda. Kami keroan orang Kutai makaikan basa mulok Kota Samarinda,” ujar perwakilan komunitas saat membacakan deklarasi dalam dialek Kutai yang kental.
Acara penutupan SCF 2025 dihadiri Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Hero Mardanus Satyawan, mewakili Wakil Wali Kota. Dalam sambutannya, Hero menyampaikan apresiasi atas partisipasi semua pihak yang telah menyukseskan gelaran tahunan ini.
“Festival ini bukan sekadar selebrasi budaya. Ini adalah bentuk nyata komitmen kita menjaga nilai lokal di tengah derasnya globalisasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, SCF 2025 menjadi ruang ekspresi generasi muda untuk menampilkan kreativitas berbasis kearifan lokal. Menurutnya, inisiatif ini bukan akhir, tetapi awal dari gerakan yang lebih luas untuk memajukan budaya Samarinda.
Penghargaan juga diberikan kepada para Duta Budaya atas dedikasi mereka dalam mempromosikan kebudayaan daerah. Penutupan festival ditandai doa bersama dan harapan agar SCF berkembang menjadi ajang budaya bertaraf nasional bahkan internasional. (abe)




